“Pernikahan yang baik akan terjadi pada istri yang ‘buta’ dan suami yang ‘tuli’.”

(Michel de Montaigne)

Dalam mendayung perahu rumah tangga, riak-riak kecil yang kadang mengeruhkan suasana pernikahan adalah sebuah keniscayaan. Termasuk perbedaan karakter antara Anda dan pasangan.

Sebab, lelaki dan wanita memang makhluk yang berbeda. Baik secara struktur fisik, kecenderungan psikis, pemikiran, dan sudut pandang. Ditambah, kadang perbedaan latar belakang dan pola asuh di lingkungan Anda dan pasangan dibesarkan pun berbeda.

Maka, perlu ada penyesuaian. Bukan hanya di masa awal pernikahan. Namun harus dilakukan seumur hidup pernikahan.

Penyesuaian karakter bukan berarti Anda dan pasangan harus memiliki karakter serupa. Melainkan bagaimana Anda dan pasangan dapat saling menerima dan menghargai perbedaan karakter yang ada.

Berikut adalah 3 cara bagaimana menyesuaikan karakter Anda dan pasangan yang diambil dari buku Sayap-Sayap Sakinah karya Afifah Afra dan Riawani Elyta.


Pertama, kuatkan pemahaman bahwa “semua manusia berbeda”.

Pahamilah bahwa pria dan wanita adalah makhluk yang berbeda. Faktor latar belakang kehidupan, pendidikan, keluarga, dan sebagainya pun amat menentukan watak seseorang.

Kemudian anggaplah perbedaan-perbedaan ini, sebagai “warna” yang akan menyemarakkan rumah tangga. Menjadi sarana bagi Anda untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan pasangan. Sekaligus sebagai sarana pendewasaan diri.

Untuk dapat mencapai pemahaman yang optimal, menurut Indra Noveldy, setiap pasangan harus terus meningkatkan keahlian dan pengetahuan. Termasuk, keahlian berkomunikasi.

Karena seringkali, pemicu perselisihan dalam rumah tangga berawal dari kemampuan yang rendah saat mengomunikasikan pendapat kita kepada pasangan.


Kedua, “runtuhkan” ego Anda untuk mencapai titik pengertian dan toleransi.

Terkadang, sesuatu itu baik menurut Anda, tetapi tidak bagi pasangan. Standar baik atau benar, kadang sangat dipengaruhi subjektifitas.

Riawani kemudian menyontohkan, sejak kecil ia terbiasa memperingati ulang tahun dengan sebuah perayaan. Kebiasaan ini terbawa sampai ia menikah.

Suatu saat, ia mencoba melakukan hal serupa pada suaminya. Tapi apa yang terjadi? Respon suami dingin-dingin saja. Bahkan sekadar tanggal ulang tahun istri pun lupa.

Ketika diingatkan, suaminya hanya menjawab, “Oh, jadi hari ini ulang tahun kamu, ya?”

Tapi perlahan, Riawani memahami watak suaminya. Sejak kecil, suaminya memang tak terbiasa merayakan ulang tahun. Begitu pun saudara-saudaranya.

Maka pada tahun-tahun berikutnya, Riawani hanya memberikan hadiah-hadiah kecil saja. Bahkan sampai lupa untuk sekadar mengucapkan selamat ulang tahun.

Namun anehnya, beberapa tahun terakhir, justru sang suami yang balik mengingatkan, “Kok, nggak ngucapin selamat ulang tahun, sih? Kan, hari ini saya ulang tahun. Udah lupa, ya?”

Begitulah. Ambillah sisi positif dari setiap perbedaan yang ada. Pengenalan karakter pasangan adalah proses pembelajaran yang berlangsung terus-menerus. Seiring pergerakan waktu, setiap manusia dapat mengalami perubahan sudut pandang, pola pikir, dan sebagainya.

Dan cara sederhana yang dapat dilakukan, menurut Cahyadi Takariawan, ialah sering mengobrol atau berkomunikasi secara terbuka. Sesibuk apa pun Anda berdua.


Ketiga, jangan jadikan kekurangan pasangan sebagai kesempatan atau “senjata” untuk meremehkan maupun menyudutkannya.

Riawani kembali bercerita, bahwa ia termasuk wanita yang tidak pandai menjahit. Pernah suatu hari ketika sang suami mengungkit hal ini, ia langsung naik darah. Dan terjadilah perang mulut.

Dari pengalaman itu, sang suami akhirnya tidak pernah lagi menyebut-nyebut kekurangan Riawani tersebut. Kalaupun sesekali keceplosan, biasanya dilakukan sambil bercanda.

Riawani pun tidak lantas emosional menanggapinya. Sebab, tak ada gunanya, dan hanya memperkeruh suasana.

Dalam buku Don’t Sweat The Small Stuff in Love, Richard Carlson dan Kristine Carlson menganalogikan memperbaiki keadaan di dalam rumah tangga dengan menghidupkan pemanas ruangan.

Jika rumah terlalu dingin, kita dapat menempuh dua cara.

Cara pertama, kita dapat menutup semua jendela, retak di dinding, dan semua celah yang terbuka.

Untuk memulihkan keadaan rumah tangga yang keruh, kita dapat berusaha memperbaiki watak pasangan kita secara total, hingga sempurna. Tapi tentu itu membutuhkan pengorbanan, perjuangan yang besar, dan waktu yang lama.

Cara kedua, kita dapat menempuh cara instan yang terbukti efektif. Kita nyalakan pemanas ruangan, nyalakan setiap indikator kehangatan yang kita ketahui.

Kita menjadi pendengar yang baik, menjadi penyabar, pemaaf, belajar menepikan ego, dan lebih mendahulukan kepentingan pasangan demi keselamatan bahtera yang sedang diarungi bersama.

Semoga rumah tangga kita tetap dilingkupi kemesraan dan kenyamanan, meski tak luput dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. []