Telah dipahami oleh seluruh kaum muslimin bahwa Al-Quran tidaklah diturunkan secara sekaligus. Melainkan berangsur-angsur sejak masa awal kenabian hingga menjelang Rasulullah wafat.

Proses turunnya Al-Quran semacam itu mengandung banyak hikmah dan rahasia mendalam yang dapat dipelajari umat Islam hari ini. Dalam bukunya yang berjudul At-Tibyan fii Ulumil Quran, Dr. Muhammad Ali Ash-Shabuni menulis setidaknya 6 hikmah di balik turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur, yaitu:

  1. Meneguhkan hati Nabi Saw. dalam menghadapi celaan orang-orang musyrik

Ayat-ayat Al-Quran diturunkan kepada Rasul Saw. sebagai pembangkit ketenangan dan penghapus penderitaan yang telah dilalui beliau dalam melaksanakan dakwah yang penuh duka dan nestapa. Allah berjanji akan melepaskan dan meringankan derita dari belenggu ancaman dan cobaan yang menimpanya.

Oleh karena itu, ketika beliau mengalami penderitaan serta ujian yang dahsyat, maka turunlah ayat Al-Quran sebagai penguat, penenang, sekaligus peringan beban yang dipikulnya.

Ayat yang bersifat tasliah (penenang) tersebut kadang berupa sejarah para Nabi terdahulu agar beliau dapat mencontoh ketabahan dan kesungguhan mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

“Dan sesungguhnya telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap tuduhan dusta dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka.” (Qs. Al-An’am: 34)

Bentuk lain yang Allah Swt. Berikan sebagai obat ketenangan kadang-kadang berupa janji adanya pertolongan, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi Rasul, yaitu sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tantara Kami itulah yang pasti menang.” (Qs. Ash-Shaffat: 171-173)

Jelaslah bahwa diulang-ulangnya wahyu yang berisi janji pertolongan Allah serta tetap terpeliharanya kerasulan Nabi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam memantapkan hati Rasulullah selama menyampaikan risalah ilahiyah.

Apakah akan merasa hina orang yang selalu dilindungi Allah?

  1. Meringankan Nabi dalam menerima wahyu

Hal tersebut karena Al-Quran mengandung kedalaman isi dan keluhuran nilai yang luar biasa sebagai firman Allah. Andai kitab ini diturunkan kepada gunung, niscaya gunung itu akan hancur disebabkan keagungan Al-Quran.

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah diakibatkan takut kepada Allah.” (Qs. Al-Hasyr: 21)

Mampukan hati Nabi yang lembut menerima Al-Quran tanpa merasakan kebingungan karena begitu dalam dan luhur kandungan isinya? Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bercerita mengenai kondisi Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Sungguh aku melihat dengan mata kepalaku, bila turun wahyu, sekalipun udara begitu dingin, Nabi mengeluarkan keringat dan pelipisnya dibasahi dengan keringat yang bercucuran karena begitu beratnya beliau menerima wahyu.”

  1. Perlahan-lahan menetapkan hukum

Al-Quran juga menetapkan hukum secara berangsur-angsur. Misalnya, mula-mula Al-Quran menggunakan pendekatan filosofis sehingga Bangsa Arab terlepas dari dunia kemusyrikan serta hidup dengan penuh pancaran keimanan. Setelah itu, langkah pemantapan iman diteruskan dengan ibadah. Ibadah yang pertama kali ditekankan pun hanya shalat, kemudian diikuti puasa, zakat, dan haji pada tahun-tahun berikutnya.

Demikian pula dengan kebiasaan yang sudah mendarah-daging di kalangan mereka. Awalnya Al-Quran menitikberatkan pada masalah dosa-dosa besar, lalu menyusul dosa-dosa kecil yang biasanya disepelekan. Selangkah demi selangkah Al-Quran mengharamkan perbuatan-perbuatan yang sudah menjadi budaya, seperti meminum khamr, memakan riba, dan berjudi. Dengan penuh hikmah dan langkah yang bijaksana, keburukan-keburukan tersebut dapat terkikis hingga ke akarnya.

  1. Mempermudah dalam menghafal dan memberi pemahaman kepada kaum muslimin

Salah satu hikmah Allah menurunkan Kitab-Nya secara berangsur-angsur ialah agar umat Islam mudah menghafalnya, mengingat Rasulullah dan Bangsa Arab pada masa itu tidak bisa baca tulis (ummi). Di samping itu, perlengkapan alat tulis juga sulit didapatkan. Dengan berpegang pada ingatan, umat Islam akan lebih mudah memahami dan menghayati kandungan Al-Quran.

  1. Sejalan dengan terjadinya sebuah peristiwa dan agar umat Islam mengingatnya

Banyak ayat yang turun sesuai dengan keadaan atau terjadinya kejadian, sekaligus mengingatkan suatu kesalahan tepat pada waktunya. Dengan demikian, ayat Al-Quran akan lebih mudah tertanam di dalam hati serta mendorong kaum muslimin untuk mengambil pelajaran secara praktis. Apabila terdapat persoalan baru di kalangan mereka, turunlah ayat untuk menjawab persoalan itu. Sedangkan jika terjadi kesalahan atau penyelewengan, turunlah ayat yang memberi batasan kepada mereka.

Contohnya ketika perang Hunain, ada sebagian pasukan yang merasa sombong dan sangat optimis meraih kemenangan karena banyaknya jumlah mereka. Namun dalam kenyataannya, pasukan umat Islam justru kocar-kacir dan tidak dapat menembus barisan musuh.

Al-Quran pun segera mengoreksi mereka dan menegaskan,

“Dan ingatlah peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan tercerai-berai.” (Qs. At-Taubah: 25)

  1. Menegaskan bahwa Al-Quran diturunkan oleh Zat yang Mahabijaksana lagi Terpuji

Syaikh Muhammad Abdul Azhim Az-Zarqani dalam kitabnya Manahilul Irfan mengemukakan,

“Kami telah membaca Al-Quran hingga tamat, ternyata rangkaian kata-katanya begitu teratur jalinannya, lembut susunan bahasanya, begitu kuat kaitannya. Satu sama lain saling berhubungan, baik antara satu surat dengan lainnya, ayat yang satu dengan ayat lainnya, maupun dilihat secara keseluruhan dari mulai ‘alif’ sampai ‘ya’ mengalir darah kemukjizatannya. Seolah-olah Al-Quran adalah suatu gumpalan yang tak terpisahkan. Di antara bagian-bagiannya tidak ada yang terpisah. Al-Quran tak ubahnya bagai untaian mutiara atau sepasang kalung yang menarik perhatian. Huruf dan kalimatnya serta ayatnya tersusun secara sistematis.”

Perhatikanlah lebih jauh saat Rasulullah Saw. menerima wahyu, beliau bersabda, “Letakkanlah pada ayat ke sekian dari surat anu…” padahal beliau adalah manusia biasa. Ia tidak tahu akibat dan kasus yang terjadi, apalagi mengetahui ayat yang bakal turun dari Allah.

Setelah masa yang lama, Al-Quran menjadi semakin sempurna, sistematis, saling berkaitan antarayatnya, dan sedikit pun tidak memiliki kekurangan. Bahkan Al-Quran melebihi tandingan semua makhluk karena di dalamnya terkandung nilai keserasian antara satu sama lainnya.