Fitnah dan cobaan adalah sebuah keniscayaan di akhir zaman. Karena pada saat ini, batasan antara yang hak dan bathil semakin samar. Dunia pun sudah menua, hanya tinggal menunggu ajalnya. Ilmu diangkat dengan diwafatkannya ulama. Yang tertinggal di bumi hanyalah orang-orang bodoh lagi menuruti nafsunya.

Berikut ini ada 5 nasihat di zaman penuh fitnah. Semoga kita dapat hidup dan mati di atas jalan kebenaran.

  1. Perbanyak amal salih

Amal salih merupakan bukti nyata dari keimanan di dalam dada. Bentuknya dapat beragam. Misalnya, memperbanyak amalan sunnah terutama shalat malam (qiyamul lail), tilawah Quran, berpuasa, dan bersedekah. Amalan-amalan tersebut akan menjadi benteng diri dan umat Islam agar tetap berada di jalan yang Allah ridai, sekaligus agar tidak terjerumus dalam kesalahan langkah saat mengarungi kehidupan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Bersegeralah melakukan kewajiban sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan pada sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya dengan sedikit dari keuntungan dunia.(Hr. Muslim)

  1. Segera melakukan ketaatan pada Allah

Di hari-hari seperti ini, kita dianjurkan untuk lebih banyak mendekatkan diri pada Yang Mahakuasa. Tidak ada yang bisa menjadi sandaran, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Taqarrub dilakukan melalui sering menyebut asma Allah, beristighfar, serta membaca doa dan zikir-zikir yang lain.

Allah Ta’ala berfirman,

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surge yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.(Qs. Ali Imran: 133)

  1. Menahan dan mengendalikan lisan

Berusahalah menahan lidah dari mudahnya menuduh, klaim tidak berdasar, vonis, buruk sangka, dusta, saksi palsu, dan menyebarkan informasi-informasi yang belum jelas kebenarannya.

Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Saw.

“Ya Rasulullah, apakah yang bisa menyelamatkan?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Jaga lisanmu, betahlah di rumah (untuk beribadah), dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.(Hr. Tirmidzi)

Ingatlah juga apa yang pernah dipesankan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Wahai lisan, katakanlah yang baik, engkau akan beruntung. Diamlah dari keburukan sebelum menyesal.”

Ada seseorang bertanya pada Ibnu Mas’ud, “Apakah apa yang engkau katakana itu dari dirimu atau engkau dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Ia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Sungguh kebanyakan kesalahan manusia itu ada pada lidahnya.’”

  1. Pegang kuat saudaramu di jalan dakwah

Di saat fitnah yang kuat menerpa, kita sangat membutuhkan adanya saudara yang mampu menjadi sandaran. Peliharalah ukhuwah atau persaudaraanmu di jalan ini. Apabila muncul informasi negatif mengenai saudaramu, cari tahu informasi tersebut sungguh-sungguh. Katakanlah sebagaimana ucapan Ali bin Abi Thalib ketika seseorang memberitakan hal negatif tentang Thalhah bin Zubair, “Apakah kamu mengira bahwa kami akan menyangka Thalhah bin Zubair itu bersalah, dan engkau benar? Engkau masih samar-samar melihat berita itu. Kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali siapa pendukung kebenaran.”

  1. Tetaplah menjadi unsur positif bagi masyarakat

Jadilah agen-agen perubahan bagi agama dan negara. Berupayalah mengarahkan umat untuk selalu menjaga persatuan, mengedepankan kesantunan sesama umat, bahkan berani mengorbankan pendapat pribadi demi hadirnya kemaslahatan bersama. Dalam hal ini, para ulama memiliki prinsip: Berhimpun atas sebagian kebenaran itu lebih baik daripada berpecah belas atas seluruh kebenaran.

Sumber: Majalah Relung Tarbiyah Edisi 6 Tahun 1