Mati adalah sebuah keniscayaan. Tetapi tidak semua orang bisa memperoleh kematian yang baik (husnul khatimah). Hal tersebut sangat tergantung dari amal manusia selama hidupnya. Di samping itu, tentu saja ridha dan ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Syaikh Al-Albani dalam kitab Ahkamul Janaiz wa Bid’auha, sebagaimana dikutip dari buku Hidup Sekali, Berarti, lalu Mati karangan Ahmad Rifai Rif’an, pernah menyebutkan 10 tanda seseorang mendapatkan karunia husnul khatimah.

Apa saja itu?

Pertama…

Mengucap syahadat menjelang wafat. Mengenai hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (Hr. Al-Hakim)

Kedua…

Wafat dengan keringat di dahi.

Buraidah Ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu saat berada di Khurasan menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Didapatkannya saudaranya itu menjelang ajal dalam keadaan berkeringat di dahinya. Ia pun berkata,

“Allahu Akbar! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

Meninggalnya seorang mukmin dengan keringat di dahi.'” (Hr. Ahmad dan An-Nasai)

Ketiga…

Wafat pada malam atau siang hari Jumat.

Dari Abdullah bin ‘Amr RA., beliau menyebutkan sabda Rasulullah:

Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (Hr. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Keempat…

Syahid di medan jihad.

Allah SWT. berfirman dalam Al-Quran,

Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rabb dengan mendapatkan rezeki.

Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang masih berjihad di jalan Allah) yang belum menyusul mereka.

Ketahuilah, tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang beriman.” (Qs. Ali Imran: 169-171)

Kelima…

Meninggal di atas jalan Allah Ta’ala.

Abu Hurairah menyampaikan sabda Rasulullah, “Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian.

Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah, maka ia syahid.”

Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.”

Apabila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat.

Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah, maka ia syahid. Siapa yang meninggal di jalan Allah, maka ia syahid. Siapa yang meninggal karena penyakit tha’un, maka ia syahid. Siapa yang meninggal karena penyakit perut, maka ia syahid. Dan siapa yang tenggelam, ia syahid.” (Hr. Muslim)

Keenam…

Wafat disebabkan penyakit tha’un atau sejenis wabah.

Dari Anas bin Malik RA., ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda, “Tha’un adalah syahadah bagi setiap muslim.” (Hr. Bukhari Muslim)

Ketujuh…

Wafat karena penyakit perut, tenggelam, atau tertimpa reruntuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Syuhada itu ada 5, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (Hr. Bukhari Muslim)

Kedelapan…

Wafatnya seorang ibu yang masih mengandung anaknya.

Wanita yang meninggal karena anaknya yang masih dalam kandungannya adalah mati syahid, anaknya akan menariknya dengan tali pusarnya ke surga.” (Hr. Ahmad, Ad-Darimi, dan Ath-Thayalisi)

Kesembilan…

Wafat dalam keadaan berjaga-jaga (ribath) fii sabilillah.

Salman Al-Farisi RA. menyebutkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam,

Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan ketika masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rezekinya, serta aman dari fitnah (kubur).” (Hr. Muslim)

Kesepuluh…

Wafat dalam kondisi beramal salih.

Rasulullah bersabda,

Barangsiapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah hanya karena mengharap wajah Allah, maka ia akan diwafatkan dengan (mengucapkan) kalimat tersebut, lantas ia masuk surga.

Barangsiapa yang berpuasa hanya karena mengharap wajah Allah, maka akan dijadikan akhir hayatnya dalam keadaan berpuasa, lantas ia masuk surga.

Barangsiapa yang bersedekah dengan hanya mengharap wajah Allah, maka akan dijadikannya akhir kehidupannya dalam keadaan bersedekah, ia masuk surga.” (Hr. Ahmad)

Wallahu a’lam bish-shawwab. []