Ketakwaan tidaklah tercapai kecuali, salah satunya, melalui taqarrub ilallah. Berupaya sedapat mungkin dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Mulai dari menjalankan ketaatan pada-Nya, mengerjakan sunnah-sunnah Nabi-Nya, bersabar atas segala cobaan yang diberikan oleh Allah, hingga menjauhi dosa dan kemaksiatan.

Sayangnya, di tengah upaya tersebut terdapat penghalang-penghalang yang justru membuat kita semakin jauh dari Allah. Ibrahim bin Adham pernah mengingatkan, setidaknya ada 10 penghalang yang menciptakan jarak antara kita dengan Allah.

1. Mengabaikan hak Allah

Kita mengaku mengenal Allah, menghafal nama dan sifat-sifat-Nya, serta bertauhid pada-Nya. Namun, kita lalai menunaikan hak-hak Allah atas hamba-Nya.

Apa saja hak Allah itu?

“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan hak sang hamba atas Rabbnya?” tanya Rasulullah pada Mu’adz bin Jabal suatu hari.

“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” tukas Mu’adz.

Nabi pun menerangkan, “Hak Allah atas hamba-Nya ialah agar Dia disembah tanpa disekutukan dengan siapa pun. Dan hak hamba kepada Rabbnya ialah: Dia tidak akan mengazab dan justru mengaruniakan nikmat kepada mereka yang memurnikan peribadahan kepada-Nya.” (Hr. Bukhari-Muslim)

2. Tidak mengamalkan isi Al-Quran

Kita membaca Al-Quran hingga menghafalnya, tetapi tidak mengamalkan kandungannya. Padahal Allah Ta’ala berfirman, “Al-Quran ini adalah penjelasan bagi manusia, juga petunjuk dan nasihat bagi orang-orang bertakwa.(Qs. Ali Imran: 138)

Seakrab apa tingkat kemesraan dan semulia apa perlakuan kita terhadap Al-Quran, setinggi itu pula pemuliaan yang Allah karuniakan.

Sebagian manusia, memperlakukan firman-Nya selayak buku biasa. Ia tidak acuh, maka Allah pun tidak acuh padanya. “Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.(Qs. Al-Furqan: 30)

Sebagian manusian lain, sekadar menjadikan Al-Quran sebagai pemuas intelektual belaka. Ibarat seorang turis membaca petunjuk wisata di kamar hotelnya, lantas menyeletuk, “Oo!”

Al-Quran hanya dianggap sebagai bayan (keterangan) yang memuat informasi. “O, aturannya begini. O, ceritanya seperti itu.”

Yang terbaik ialah manusia yang memperlakukan Al-Quran sebagai petunjuk. Bak wisatawan yang membawa peta dan panduan perjalanan. Ia beranjak dari hotel, lantas menempuh perjalanan sembari mempelajari tanda, menyusuri peta, menjauhi bahaya, hingga mencapai tempat yang dituju.

Merekalah orang-orang yang selamat.

pixabay/Hans

3. Mengikuti langkah setan

Kita sadar bahwa setan ialah musuh senyata-nyatanya, tapi masih saja diikuti langkah-langkahnya. Secara garis besar, langkah setan itu terbagi dua, yakni:

  1. Tadhlil (Penyesatan)
    • Waswas, yaitu membisikkan hal-hal mengkhawatirkan saat seorang hamba akan dan sedang taat pada Allah.
    • Nisyan (lupa), yaitu manusia dibuat lupa dari tuntunan, lupa mengerjakan kebajikan, lupa menunaikan kewajiban.
    • Tamanni, yaitu setan menanamkan angan-angan ke dalam kepala, sehingga manusia suka mengkhayal dan kurang beramal.
    • Tazyin, yaitu menghias perbuatan yang busuk jadi wangi, yang hina tampak mulia, dan yang nista terlihat menawan.
    • Wa’d alias janji palsu. “Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.(Qs. Ibrahim: 22)
    • Kaid alias tipu daya. “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut. Sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.(Qs. An-Nisa: 76)
    • Taswif alias suka menunda-nunda. Nanti saja baca Al-Qurannya kalau senggang. Nanti saja sedekah nunggu kaya. Nanti saja shalatnya jika sudah tua.
    • Takhwif (menakuti). Jangan fanatik beragama, nanti jadi teroris. Masih muda jangan sering ke masjid, mirip orang tua. Jangan berhijab, nanti sulit dapat kerja.
  2. Labsul Haq bil Bathil (mencampuradukkan kebaikan dan kejahatan). Saat keburukan tidak lagi memikat hati, setan pun memadukannya dengan unsur kebajikan. Misalnya, memakai dalil tetapi tidak mematuhi kaidah ulama atau mengadakan motivasi yang berbau kesyirikan.

4. Tidak mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kita mengaku mencintai Nabi, tapi abai terhadap sunnahnya. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Qs. Ali Imran: 31)

flickr/U.S. Embassy, Jakarta

5. Lambat beramal

Kita mengaku merindukan surga, tetapi mudah bermalas-malasan, lambat, dan tertinggal mengerjakan amal-amal salih.

6. Terlarut dalam dosa

Kita ngeri pada neraka, sayangnya asyik terjerumus dalam dosa dan tenggelam dalam kemaksiatan. Hati pun perlahan mati, bangga terhadap maksiat, serta menunda taubat.

7. Tidak menyiapkan kehidupan akhirat

Kita tahu bahwa mati itu pasti, tetapi tidak segera berbekal diri. Sebab itu, Imam Ghazali memberi nasihat, “Seseorang akan mati di atas apa yang dia jalani hidupnya di atas itu.”

Allah ‘Azza wa Jalla pun berfirman, “Dan jangan sekali-kali kamu mati, kecuali dalam keadaan berislam.(Qs. Ali Imran: 102)

8. Abai terhadap kekurangan diri

Kita sering mencari kesalahan sesama, tapi lupa terhadap aib dan kekurangan diri sendiri. Awalnya berprasangka, lalu memata-matai, membicarakan aibnya di depan orang lain, hingga lahirlah celaan dan fitnah.

9. Kurang bersyukur

Setiap hari makan. Setiap waktu menghela napas. Setiap jam merasakan nikmat sehat. Sayangnya kita kurang bahkan tidak mau bersyukur pada Allah Ta’ala. Di antara tandanya ialah tidak memuji karunia-Nya dan menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk bermaksiat pada Allah Ta’ala.

10. Tidak mengambil pelajaran dari kematian

Betapa banyak kita menyaksikan orang dimakamkan, dengan berbagai latar belakang kehidupannya. Namun, kita tidak kunjung mengambil pelajaran atas kejadian-kejadian tersebut.